Islam KTP yang tayang di salah satu stasiun TV swasta memang menjadi sinetron kegemaran kami. banyak ilmu yang bisa dituai di sana. seperti episode Selasa 1 Maret 2011.
seorang suami tengah berbincang dengan salahsatu pegawai perempuannya. soal pekerjaan itu terjadi di rumah. sepanjang dialog, si suami tampak begitu ramah dengan karyawati nya tersebut. tak pernah senyum absen dari mulut si suami.
usai itu, lantas sang istri menghampiri sang suami dengan cemberut. mengetahui itu, sang suami mencoba menjelaskan bahwa itu hanyalah sebatas pekerjaan saja. wajar ia ramah terhadap karyawatinya.
namun bukan itu yang jadi ganjalan sang istri. namun sikap tak adil yang diberikan suami kepadanya. kepada karyawati atau siapa saja, ia bisa senyum RAMAH dan tampil menyenangkan. namun tidak sama sang istri. hal ini lah yang memicu kecemburuan sang istri. jika sama orang lain bisa seperti itu, namun tidak kepada dirinya.
nukilan sinetron tersebut tentunya mengentak siapa saja. istriku pun demikian. lantas ia menegurku. "Tu, sama seperti papa. Sama kawan kantornya senyum-senyum. tapi kalau di rumah, manyun aja. kenapa begitu?"
itu pun lantas menyadarkan aku. benar apa yang dikatakan istriku. baginya, aku tak pernah memberikan senyuman. padahal tak banyak yang ia minta: hanya senyuman. sesulit itukah aku memberikannya?
haahhh...mulai sekarang aku sadar. bahwa ada senyuman yang jauh lebih penting dan diutamakan diberikan kepada siapa. yakni kepada sang istri. dengan begitu, aku sudah menyenangkan hati sang istri. dengan begitu, aku sudah melakukan hal kecil yang berarti di lingkungan kecil. dan tak menutup kemungkinan, aku pun bisa memberikan hal yang berarti pula kepada lingkungan yang lebih besar pula....
ah....aku makin cinta kepadamu duhai istriku....
Selasa, 01 Maret 2011
Langganan:
Komentar (Atom)
